[Pulau Seribu] Terdampar di Pulau Perak Tak Berpenghuni

Summer time tentu saja identik dengan pantai dan laut. Yang ada di benak saya hanyalah laut biru, pantai berpasir, debur ombak, dan cakrawala tanpa batas.

Cast Away in Island

Yang menjadi pilihan destinasi saya pada saat itu adalah Pulau Perak, di gugusan kepulauan Seribu. Tapi sebelum semua impian itu terwujud, lagi-lagi saya harus mencium bau ikan dan mendapati kaki saya berlumuran lumpur hitam di pelabuhan Muara Angke. Perjalanan dimulai sejak pukul 5 pagi, dimana saya dan beberapa orang dari komunitas Kaskus Backpacker Community Jabodetabek (BPC) sudah bersiap di pelabuhan. Untuk menuju ke Pulau Harapan, saya harus terlebih dahulu naik kapal menuju ke Pulau Harapan. Sungguh perjuangan karena pagi-pagi sudah mencium aroma sedap dari pasar ikan padahal langit masih gelap gulita. Kapal yang menuju ke Pulau Harapan ini memang sangat jarang, tidak sebanyak kapal yang ke Pulau Tidung. Karenanya, kami harus berebutan tempat dengan para penumpang lainnya yang ingin menyebrang.

Benar saja, sekitar 1 jam sejak saya memasuki kapal, para penumpang langsung padat. Sekitar jam 7 pagi, kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Muara Angke. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dengan terlebih dahulu mampir ke  Pulau Pramuka. Kapal hanya mampir sebentar menurunkan penumpang dari Jakarta dan sejumlah penumpang naik yang ingin ke pulau lain. Dari Pulau Pramuka menuju Pulau Harapan setidaknya menempuh perjalanan lagi selama 1 jam. Perjalanan masih panjang rupanya.

DSC_1999 copy

Setibanya saya di Pulau Harapan, saya dan rombongan langsung melanjutkan perjalanan menuju Pulau Perak memakai 2 kapal nelayan berukuran kecil. Perjalanan dari Pulau Harapan ke Pulau Perak memakan waktu sekitar 1 jam. Karena pada saat itu, sedang berlangsung Sea Games di Kepulauan Seribu, jadi ada beberapa daerah pulau yg ditutup. Mau tak mau, kapal kami harus memutar lebih jauh untuk dapat sampai ke Pulau Perak. Setelah menempuh perjalanan panjang di atas air dan melawan terik panas matahari, akhirnya saya sampai di Pulau Perak. Pemandangan pertama yang saya lihat adalah sebuah pulau kecil dengan pasir putih dan lautnya yang jernih. Ya, pulau kecil seluas 3,06 HA yang hanya dijaga oleh 2 orang petugas.
DSC_2108 copy
Perjalanan kali ini membawa suatu cerita tersendiri bagi saya. Betapa tidak? Bayangkan saja saat itu saya seperti terdampar di suatu pulau kecil, tanpa penerangan listrik sama sekali. Tapi yang seru adalah dalam perjalanan ini kami berkemah di tepi pantai. Bisa tiduran di dermaga, beratapkan langit dan cahaya bintang. Benar-benar seperti dalam film Lost. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di pulau kecil ini. Karena memang hanya pulau kecil, hanya ada 1 sumur tua dan 1 kamar mandi darurat. Kalau kamu ingin mandi, tentu saja kamu harus mengambil air dari dalam sumur terlebih dahulu (alias nimba).
Cast Away in Island

Pada saat itu, kami island hoping dan snorkeling ke beberapa spot di sekitar pulau. Dari Pulau Perak, kami naik kapal lagi sekitar 15 menit menuju spot snorkeling pertama, yaitu sekitar Pulau Dolphin. Lautnya super jernih dengan perairannya yang agak dangkal. Setelah saya coba nyemplung, tinggi airnya hanya sekitar spinggang atau seperut orang dewasa. Tapi perlu berhati-hati, karena di perairan ini cukup banyak bulu babi. Kalau kebetulan lagi mampir island hoping disini, harus pinter mencari tempat  yang agak jarang bulu babi-nya. Di tempat ini, kita cuma berenang sekitar 30 menit. Menurut saya sih tmpt ini bagus, tapi agak kurang pemandangan underwaternya karena sedikit batu koral dan ikannya. Dari spot pertama tadi, kami kemudian pindah ke spot kedua.

Disinilah petualangan dimulai. Spot kedua ini lebih dalam perairannya dibandingkan spot pertama tadi. Lengkap dengan pemandangan underwater mulai dari batu koral, ikan nemo, dan bintang laut. Seru! Airnya juga jernih. Saya bisa melihat pemandangan batu koral bahkan sejak saya berada di atas kapal. Tapi hati-hati yaa karena di tempat ini beberapa teman termasuk saya, mendapat “cinderamata” berupa luka di kaki karena terkena karang ketika sedang snorkeling. Sayangnya pada saat itu rombongan kami berangkat island hoping sudah agak kesorean. Jadinya di tempat kedua ini juga kami Cuma menghabiskan waktu sekitar 30-45 menit saja karena harus buru-buru balik ke Pulau Perak. Benar saja, akhirnya kami hanya bisa menikmati indahnya matahari terbenam dari atas kapal yang kami tumpangi. Malamnya, kami bersantai di pulau sambil menikmati api unggun dan BBQ. Selain itu juga kami  bersenda gurau di atas dermaga. Beberapa orang teman saya bahkan ada yang memilih untuk tidur di dermaga sambil menatap bintang-bintang. Sayangnya pada saat itu sedang musim hujan dan mereka tidak bisa menikmatinya lebih lama karena hujan turun.

Tips:
  • Jangan lupa membawa headlamp atau senter karena di pulau ini tidak ada listrik atau penerangan sama sekali.
  • Lotion anti nyamuk dan sunblock, wajib kamu bawa dalam tasmu!

One Reply to “[Pulau Seribu] Terdampar di Pulau Perak Tak Berpenghuni”

  1. Yah, kirain tulisan tentang acara dive-camp trip bareng anak2 freedive waktu itu 🙂

Leave a Reply