Skip to content

Perjalanan Singkat Menuju Perayaan Waisak di Candi Borobudur

Berangkat dari keinginan untuk mengulang kembali merasakan suasana sakral perayaan Waisak di Candi Borobudur 3 tahun silam, saya dan beberapa teman pun akhirnya melakukan perjalanan singkat menuju Magelang di tahun 2013 lalu.

waisak-1

Hari itu, saya dan beberapa teman berangkat menuju Yogyakarta dengan kereta ekonomi melalui Pasar Senen, Jakarta. Perkiraan perjalanan akan memakan waktu sampai dengan 10 jam. Jam menunjukkan pukul 13.00, kereta perlahan bergerak melaju. Selama perjalanan, kereta berhenti beberapa kali antara lain di stasiun Cirebon, Purwokerto, Kroya, Gombong, Karanganyar dan masih ada beberapa lainnya. Hal yang saya suka ketika melakukan perjalanan dengan kereta api di siang hari adalah suguhan pemandangan menarik di sekitar jalur kereta yang dilalui. Sawah hijau membentang, pemukiman warga, hiruk pikuk kota-kota kecil yang dilalui, pegunungan indah yang terlihat dari kejauhan, dan masih banyak lagi. Hal-hal yang tidak dapat kamu saksikan kalau kamu naik kereta malam. Kekurangannya adalah panas terik matahari yang masih terasa menembus jendela kereta, tentu saja.

waisak-2Kereta yang kami naiki tiba di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta sekitar pukul 22.30 wib. Memang sedikit terlambat dari waktu yg dijadwalkan yaitu jam 10. Dari stasiun, kami berjalan kaki menuju penginapan tak jauh dari stasiun. Karena kebetulan kami belum makan malam, kami memutuskan untuk mencicipi kuliner yang ada di Pasar Lempuyangan, sembari kami berjalan kaki ke penginapan tersebut. Hotel Puri Tumenggung menjadi pilihan kami malam itu untuk beristirahat. Letaknya di jl. Masjid, dkt dgn Keraton Pakualaman, sekitar 1 km dari stasiun Lempuyangan.

Esok harinya, kami berangkat menuju Magelang menggunakan mobil sewaan. Ada juga beberapa teman yang memilih untuk berangkat menuju Magelang menggunakan bis / angkot. Dari Yogya ke Magelang membutuhkan waktu sekitar 1 jam jika tidak macet. Namun pada saat itu, lalu lintas lumayan padat dan ada beberapa jalanan yang ditutup, sehingga kami baru tiba di Magelang setelah perjalanan selama 2 jam.

Perayaan Waisak sendiri biasanya dilakukan saat bulan purnama pertama di bulan Mei, untuk memperingati 3 peristiwa penting yaitu, lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini, peristiwa ketika Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya), serta peristiwa wafatnya Buddha Gautama. Ketiga peristiwa ini disebut Trisuci Waisak. Perayaan Waisak terdiri dari beberapa bagian penting, antara lain pengambilan air berkat di mata air umbul jumprit di Temanggung dan penyalaan obor dengan sumber api abadi Mrapen, ritual Pindapatta (ritual pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/bhiksu oleh masyarakat/umat sebagai simbol kebajikan), Samadhi pada detik-detik bulan purnama. Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula pradaksina, pawai, serta acara kesenian.

waisak-8 copySekitar pukul 14.00, pawai rombongan para biksu dan umat Buddha dari Candi Mendut ke Candi Borobudur melewati jalanan depan penginapan selama kami di Magelang. Setelah sebelumnya, mereka melakukan ritual doa di Candi Mendut. Saya dan beberapa teman sempat mengabadikan pawai ini. Api abadi Mrapen dan air suci dari umbul jumprit dari Temanggung juga ada dalam pawai (arak-arakan) tersebut.

Setibanya pawai tersebut di Candi Borobudur, masih ada beberapa ritual perayaan Waisak lainnya yang dilakukan para umat Budha. Ritual doa dilakukan mulai dari sore hari di beberapa titik di dalam kompleks Candi Borobudur. Malam hari sekitar jam 19.00 WIB, hujan deras turun mengguyur Candi Borobudur. Ritual perayaan Waisak tetap dilanjutkan, diikuti dengan ritual pradaksina (mengelilingi candi sebanyak 3 kali sambil tetap melakukan ritual doa). Tahun ini juga, salah satu ritual akhir Waisak yaitu pelepasan lampion terbang sebagai simbol make a wish juga terpaksa tidak dilakukan karena cuaca hujan yang terus menerus turun. Pengunjung yang hari itu datang ke Candi Borobudur rasanya terlalu padat sehingga suasana tidak nyaman. Perayaan Waisak juga menjadi kurang terasa sakral. Banyak yang bertindak seenaknya, padahal acara ini adalah upacara keagaman.Yah, sudah seharusnya kita saling respek satu sama lain antar agama, kapanpun dan dimanapun.

Keesokan harinya, saya dan beberapa teman berangkat menuju kota Yogya lagi untuk menikmati beberapa tempat yang ada disana. Salah satunya adalah Goa Pindul yang terletak di Wonosari. Perjalanan dari kota Yogya ke Wonosari memakan waktu sekitar 1,5 – 2 jam menggunakan mobil pribadi. Di sana kami mencoba cave tubing di Goa Pindul dan river tubing di Sungai Oyo. Buat yang suka tantangan, bisa mencoba kegiatan ini disana. Sayang sekali pada saat itu kami tidak membawa kamera, sehingga tidak bisa mengabadikan momen-momen menarik disana. Sore harinya, kami kembali ke kota Yogya.

Kebetulan kereta kami malam itu berangkat jam 23.00 dari Stasiun Tugu, jadi kami masih mempunyai beberapa jam menikmati suasana malam hari kota Yogya. Kami pun menitipkan tas di loker yang ada di stasiun Tugu, sehingga lebih leluasa dalam menyusuri jalanan kota Yogya. Saya dan teman-teman sempat mencicipi kuliner Yogya lainnya saat itu. Tak lengkap rasanya jika datang ke kota Yogya tapi belum makan gudeg. Jadilah saat itu kami mencicipi Gudeg Yu Djum di Jl. Wijilan. Ini merupakan salah satu gudeg yang terkenal di Yogya. Menu saya sendiri adalah Gudeg Ati Ampela dan Telur. Nyam… Nyam…

waisak-13

Setelah selesai mencicipi gudeg, kami kembali menuju stasiun Tugu dan menghabiskan waktu sebelum keberangkatan kami balik ke Jakarta. Tepat pukul 23.00, kereta Bengawan datang. Hanya berhenti sekitar 5-10 menit di stasiun Tugu dan menunggu para penumpang masuk, kereta tersebut langsung bertolak menuju Jakarta. Sampai berjumpa kembali kota Yogyakarta yang ramah dan ngangeni.

Tips:
–  Bepergian dengan kereta api, usahakan untuk datang ke stasiun paling telat 15-30 menit sebelum jam keberangkatan, karena kereta api selalu berangkat tepat waktu.
–  Siapkan beberapa cemilan ringan untuk menemani perjalanan Anda di kereta, atau bisa juga membeli makanan di kereta atau di pedagang-pedagang yang ada di beberapa stasiun.
–  Untuk mengusir rasa bosan di kereta, siapkan kartu atau permainan lainnya bersama teman.
–  Berdasarkan pengalaman datang ke perayaan Waisak dalam 2 tahun belakangan, jangan lupa membawa payung atau jas hujan.
–  Pakailah pakaian yang sopan karena ini adalah upacara keagaaman, bukan sedang jalan-jalan di mall.
–  Tetap menjaga kebersihan, jangan buang sampah sembarangan. Please?!
–  Bugdet untuk naik bis / angkot menuju Magelang sekitar Rp. 25.000
–  Tiket masuk Candi Borobudur sekitar Rp. 30.000
–  Tersedia loker di stasiun Tugu bagi yang ingin menitipkan tas disana selama beberapa jam.

 

Dimuat juga dalam freemagz.com melalui link ini.

One Comment

Leave a Reply to Indah Jelita Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *